AGAMA
TRADISIONAL ORANG TRUNYAN DI BALI
Oleh : Dede Nurafiyah, Wildan Zaenudin, dan M.
Munip Akbar
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam sejarah perkembangan agama-agama
besar sering dijumpai suatu kondisi dimana agama besar yang sudah keluar dari
tempat asalnya dan bersinggungan dengan agama atau kebudayaan, tradsi, di suatu
tempat, akan melahirkan suatu pemahaman atau bahkan varian baru agama tersebut.
Ada beberapa pola hasil persinggungan antara agama besar dengan agama lokal
setempat. Terkadang agama besar dapat masuk dan dapat menggantikan kepercayaan
setempat bahkan bisa saja tertolak karena kuatnya resistensi dari kepercayaan setempat.
Namun hasil persinggungan antara agama besar dengan agama lokal yang banyak di
jumpai di Indonesia adalah adanya akulturasi bahkan sampai sinkretisasi. Hal
ini tentu saja karena kuatnya resistensi dari masyarakat dalam memegang adat
istiadatnya. Di Bali hal ini dapat kita temukan dengan melihat agama Hindu Bali
di Trunyam.
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, penulis
berusaha merumuskan pembahasan yang akan dibahas dalam makalah ini. Rumusan
masalah tersebut adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana asal usul
orang suku Trunyan?
2. Bagaimana adat
kebudayaan, dan Ritual agama Trunyan?
3. Bagaimana upacara
Kematian dan pemakaman Trunyan?
1.3 Tujuan Penulisan
Dari rumusan masalah yang sudah penulis
rumuskan di atas, dapat ditarik kesimpulan tujuan dari penulisan makalah ini,
yaitu:
1. Untuk mengetahui asal
usul orang suku Trunyan.
2. Untuk mengetahui adat
kebudayaan, dan ritual agama Trunyan.
3. Untuk mengetahui
upacara kematian dan pemakaman Truyan.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Asal-usul Suku
Trunyan/Bali Aga.
Dahulu ada seorang Dewi yang karena
terpesona oleh Bau Harum, yang datang dari suatu tempat di bumi, telah turun
dari langit untuk mencari sumber bau harum itu setelah mencari-cari beberapa
waktu lamanya, akhirnya ia tiba di tempat bau harum itu berasal. Bau harum
tersebut ternyata keluar dari suatu pohon TaruMenyan (pohon menyan/
benzoin). Sejak itu dinamakan Trunyan yang berasal dari kata
taru dan menyan.
Desa Trunyan terletak di dalam satu
kepundan gunung berapi purba, yang telah meletus beberapa ribu tahun yang lalu.
Gunung berapi itu ialah Gunung Batur Purba. Sebagian dari lubang kepundan itu
kemudian terisi dengan air, sehingga kini telah berubah menjadi danau yang
indah sekali, yang bernama Danau Batur. Di sebelah barat kepundan tersebut,
kemudian tumbuh anak gunung berapi setinggi 1717 meter, yang terkenal dengan
nama Gunung Batur. Wilayah sekitar Danau Batur ternyata sudah dihuni jauh
sebelum masuknya kekuasaan Majapahit di Bali, dan dijadikan sebagai salah satu pusat
perlawanan oleh masyakat Bali Aga kepada kekuasan Majapahit di Bali pada masa
pemerintahan Sri Kresna Kapakisan. Danau Batur merupakan salah satu tempat
berkembangnya kebudayaan dan tempat bermukinya masyarakat Bali Aga.
Desa Trunyan adalah desa yang telah ada
sejak jaman kuno, dan mungkin juga sejak jaman purbakala. Pada prasati Truyan
Al, yang berasal dari abad x Masehi, (833 caka) dapat dibaca mengenal izin
pembangunan satu kuil bagi Batara Da Tonta (Goris, 1954, II: 183), yang pada
dewasa ini oleh penduduk lebih dikenal dengan nama Ratu Sakti Pancering Jagat.[1]
http://wisatabaliutara.com/2014/12/keunikan-desa-trunyan-bali-tentang-pemakaman.html/ diakses pada
tanggal 15 april 2016 pada pukul 17.00.
Penduduk Trunyan sendiri tidak suka
disebut dengan nama Bali aga, mereka lebih senang jika disebut sebagai orang
Bali Turunan. Nama Bali Aga diperolehnya dari penduduk Bali lainnya, yang
menyebut diri mereka sebagai orang Hindu, dan mereka ini merupakan penduduk
Trunyan karena mempunyai arti tambahan yang merendahkan martabat mereka, yaitu
sebagai “orang gunung yang bodoh”.[2]
Bahasa Trunyan adalah apa yang disebut
bahasa Bali “Kasar”, tetapi bahasa Trunyan dan bahasa Bali mempunyai beberapa
perbedaan, sehingga orang Bali dari desa lain sukar mengerti waktu mereka untuk
pertama kali mendengarnya. Perbedaan yang paling menonjol adalah cara
pengucapan vokal “a” pada suku terakhir dari satu kata, yaitu jika pada bahasa
Bali resmi semua vokal “a” pada suku terakhir diucapkan sebagai “e” (pepet),
maka pada orang Trunyan vokal itu tetap di ucapkan sebagai “a” (seperti dalam
mama).
Jauh sebelum terbentuknya masyarakat
Bali keturunan Majapahit (Wong Majapahit), masyarakat Bali di perkirakan konon
berasal dari keturunan “Austronesia”. Mereka telah tinggal secara berkelompok
dengan pemimpinnya masing-masing di wilayah Bali. Kelompok-kelompok inilah yang
kemudian menjadi beberapa desa di Pulau Bali mereka adalah Bali Aga yang di
kenal dengan nama Pasek Bali.
| orang aring |
Bukti peninggalan dari masa berburu dan
mengumpulkan makanan tingkat sederhana diketemukan di Desa Sembiran dan di
wilayah pesisir timur serta tenggara Danau Batur. Peninggalan-peninggalan itu
diantaranya berupa kapak perimbas, kapak genggam, alat serut dan lain-lain.
Peninggalan Prasejrah di bali juga berlanjut hingga masa Perundagian, yang
terkenal adalah Nekara Pejeng.
Sebelum masuknya pengaruh Hindu-Buddha,
masyarakat Bali masih menganut kepercayaan nenek moyang yang mereka namakan
Hyang. Menurut beberapa pendapat, kondisi spiritual dan kepercayaan masyarakat
Bali pada saat itu “masih kosong”. Keadaan kosong ini dikatakan berlangsung
hingga awal tarikh Masehi, bahkan kurang lebih hingga sekitar abad pertama
Masehi. Dengan keadaan Bali yang demikian konon mulai berdatangan orang-orang
dari luar Bali ke pulau ini. Di samping mengajarkan agama Hindu, mereka juga
bertujuan memajukan Bali kehidupan penduduknya. Untuk maskud tersebut kemudian
datang seorang RSI ke Bali bernama Maharsi Markandeya dari India.
Pendapat di atas dapat dipastikan
keliru, karena dari tinggalan benda-benda prasejarah yang banyak diketemukan di
Pulau Bali, menunjukan masyarakat Bali pada masa lalu telah mengembangakan
suatu sistem kepercayaan yang kompleks, jauh sebelum penanggalan Masehi
dikenal, bahkan jauh sebelum “Hindu” dan India menyentuh pulau Bali. Mungkin
yang dimaksud kosong di atas lebih merujuk belum beragama “Hindu-Bali”.[3]
B. Mite Atau Legenda.
· Mite Tentang Dewi Yang
Turun Dari Langit.
Trunyan mempunyai satu mite (dongeng
suci) mengenai asal-usul penduduk Trunyan, yang menceritakan bahwa leluhur
wanita mereka adalah seorang Dewi dari langit yang diusir dari kahyangan (entah
karena dosa apa), untuk turun ke suatu tempat di bumi yang kemudian terkenal
dengan nama desa Trunyan. Rahim Dewi ini kemudian dibuahi secara ajaib oleh
matahari (Sang Surya) karena sering menghina Sang Surya dengan cara
memperlihatkan alat kelaminnya sambil menungging ke arahnya. Sebagai akibat
kenakalannya itu secara ghaib ia mengandung, dan setelah tiba waktunya
Sang Dewi melahirkan sepasang anak kembar berlainan jenis kelamin(kembar
buncing), seorang diantaranya adalah anak banci dan seorang lagi anak
perempuan. Setelah anak tersebut besar Sang Dewi kemudian kembali ke Kahyangan.[4]
· Legenda Tentang
Anak-Anak Dalem Solo Yang Menggembara Mencari Sumber Bau Harum.
Bau harum yang berhamburan dari desa
Trunyan juga tercium sampai ke puri(Keraton) Dalam Solo. Bau harum
yang luar biasa ini telah menarik minat empat orang anak Dalam Solo untuk
bersama-sama mencari sumbernya. Dari empat orang anak Dalam Solo itu, tiga yang
lebih tua usianya adalah laki-laki, sedangkan yang termuda adalah seorang
wanita. Dalam pengembaran tersebut, akhirnya mereka tiba di Pulau Bali. Anak
Dalem Solo yang perempuan berkeputusan untuk berdiam ditempat itu, yaitu
bertempat di Pura Batur, sekarang Gelar Putri tersebut setelah menjadi dewi
adalah dewi Ratu Ayu Mas Maketeg. Ketiga saudara laki-lakinya melanjutkan
perjalanan menyusur pinggir Danau Batur, dan ketika tiba di suatu tempat yang
datar sebelah barat daya Danau, terdengar oleh mereka terdengar seekor burung.
Maka sejak itu tempat itu bernama Kedisan, karena burung dalam bahasa Bali
adalah Kedis. Wauktu terdengar suara itu, karena girangnya, putra Dalam Solo
yang termuda berteriak. Hal ini membuat kakanya yang tertua kurang senang,
sehingga menginginkan supaya adiknya untuk selanjutnya tinggal ditempat itu,
dan tidak lagi ikut penggembaraan mereka. Tetapi si kecil menolak, sehingga
dalam kemarahannya, ia ditendang denga keras oleh kakanya sampai jatuh bersila.
Itulah sebabnya, maka didesa Kedisan pada dewasa ini terdapat satu patung batu
Betera (dewa) yang duduk dalam sikap bersila. Betera yang asalnya adalah putera
Dalam Solo yang ketiga ini, kemudian bergelar Ratu Sakti Sang Hyang Jero, dan
kini bersemayam (melinggih) di Meru Tumpang Pitu (bangunan suci dalam kuil yang
beratap tujuh tingkat) di dalam Kuil Pura Dalam Pingit di Desa Kedisan.[5]
selanjutnya
selanjutnya
0 komentar for " "
Posting Komentar