Minggu, 24 April 2016




AGAMA TRADISIONAL ORANG TRUNYAN DI BALI
Oleh : Dede Nurafiyah, Wildan Zaenudin, dan M. Munip Akbar

BAB I
PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
Dalam sejarah perkembangan agama-agama besar sering dijumpai suatu kondisi dimana agama besar yang sudah keluar dari tempat asalnya dan bersinggungan dengan agama atau kebudayaan, tradsi, di suatu tempat, akan melahirkan suatu pemahaman atau bahkan varian baru agama tersebut. Ada beberapa pola hasil persinggungan antara agama besar dengan agama lokal setempat. Terkadang agama besar dapat masuk dan dapat menggantikan kepercayaan setempat bahkan bisa saja tertolak karena kuatnya resistensi dari kepercayaan setempat. Namun hasil persinggungan antara agama besar dengan agama lokal yang banyak di jumpai di Indonesia adalah adanya akulturasi bahkan sampai sinkretisasi. Hal ini tentu saja karena kuatnya resistensi dari masyarakat dalam memegang adat istiadatnya. Di Bali hal ini dapat kita temukan dengan melihat agama Hindu Bali di Trunyam.

1.2     Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, penulis berusaha merumuskan pembahasan yang akan dibahas dalam makalah ini. Rumusan masalah tersebut adalah sebagai berikut:
1.    Bagaimana asal usul orang suku Trunyan?
2.    Bagaimana adat kebudayaan, dan Ritual agama Trunyan?
3.    Bagaimana upacara Kematian dan pemakaman Trunyan?

1.3    Tujuan Penulisan
Dari rumusan masalah yang sudah penulis rumuskan di atas, dapat ditarik kesimpulan tujuan dari penulisan makalah ini, yaitu:
1.    Untuk mengetahui asal usul orang suku Trunyan.
2.    Untuk mengetahui adat kebudayaan, dan ritual agama Trunyan.
3.    Untuk mengetahui upacara kematian dan pemakaman Truyan.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Asal-usul Suku Trunyan/Bali Aga.
Dahulu ada seorang Dewi yang karena terpesona oleh Bau Harum, yang datang dari suatu tempat di bumi, telah turun dari langit untuk mencari sumber bau harum itu setelah mencari-cari beberapa waktu lamanya, akhirnya ia tiba di tempat bau harum itu berasal. Bau harum tersebut ternyata keluar dari suatu pohon TaruMenyan (pohon menyan/ benzoin). Sejak itu dinamakan Trunyan yang berasal dari kata taru dan menyan.
Desa Trunyan terletak di dalam satu kepundan gunung berapi purba, yang telah meletus beberapa ribu tahun yang lalu. Gunung berapi itu ialah Gunung Batur Purba. Sebagian dari lubang kepundan itu kemudian terisi dengan air, sehingga kini telah berubah menjadi danau yang indah sekali, yang bernama Danau Batur. Di sebelah barat kepundan tersebut, kemudian tumbuh anak gunung berapi setinggi 1717 meter, yang terkenal dengan nama Gunung Batur. Wilayah sekitar Danau Batur ternyata sudah dihuni jauh sebelum masuknya kekuasaan Majapahit di Bali, dan dijadikan sebagai salah satu pusat perlawanan oleh masyakat Bali Aga kepada kekuasan Majapahit di Bali pada masa pemerintahan Sri Kresna Kapakisan. Danau Batur merupakan salah satu tempat berkembangnya kebudayaan dan tempat bermukinya masyarakat Bali Aga.
Desa Trunyan adalah desa yang telah ada sejak jaman kuno, dan mungkin juga sejak jaman purbakala. Pada prasati Truyan Al, yang berasal dari abad x Masehi, (833 caka) dapat dibaca mengenal izin pembangunan satu kuil bagi Batara Da Tonta (Goris, 1954, II: 183), yang pada dewasa ini oleh penduduk lebih dikenal dengan nama Ratu Sakti Pancering Jagat.[1]


Penduduk Trunyan sendiri tidak suka disebut dengan nama Bali aga, mereka lebih senang jika disebut sebagai orang Bali Turunan. Nama Bali Aga diperolehnya dari penduduk Bali lainnya, yang menyebut diri mereka sebagai orang Hindu, dan mereka ini merupakan penduduk Trunyan karena mempunyai arti tambahan yang merendahkan martabat mereka, yaitu sebagai “orang gunung yang bodoh”.[2]
Bahasa Trunyan adalah apa yang disebut bahasa Bali “Kasar”, tetapi bahasa Trunyan dan bahasa Bali mempunyai beberapa perbedaan, sehingga orang Bali dari desa lain sukar mengerti waktu mereka untuk pertama kali mendengarnya. Perbedaan yang paling menonjol adalah cara pengucapan vokal “a” pada suku terakhir dari satu kata, yaitu jika pada bahasa Bali resmi semua vokal “a” pada suku terakhir diucapkan sebagai “e” (pepet), maka pada orang Trunyan vokal itu tetap di ucapkan sebagai “a” (seperti dalam mama).
Jauh sebelum terbentuknya masyarakat Bali keturunan Majapahit (Wong Majapahit), masyarakat Bali di perkirakan konon berasal dari keturunan “Austronesia”. Mereka telah tinggal secara berkelompok dengan pemimpinnya masing-masing di wilayah Bali. Kelompok-kelompok inilah yang kemudian menjadi beberapa desa di Pulau Bali mereka adalah Bali Aga yang di kenal dengan nama Pasek Bali.
orang aring
Bukti peninggalan dari masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana diketemukan di Desa Sembiran dan di wilayah pesisir timur serta tenggara Danau Batur. Peninggalan-peninggalan itu diantaranya berupa kapak perimbas, kapak genggam, alat serut dan lain-lain. Peninggalan Prasejrah di bali juga berlanjut hingga masa Perundagian, yang terkenal adalah Nekara Pejeng.
Sebelum masuknya pengaruh Hindu-Buddha, masyarakat Bali masih menganut kepercayaan nenek moyang yang mereka namakan Hyang. Menurut beberapa pendapat, kondisi spiritual dan kepercayaan masyarakat Bali pada saat itu “masih kosong”. Keadaan kosong ini dikatakan berlangsung hingga awal tarikh Masehi, bahkan kurang lebih hingga sekitar abad pertama Masehi. Dengan keadaan Bali yang demikian konon mulai berdatangan orang-orang dari luar Bali ke pulau ini. Di samping mengajarkan agama Hindu, mereka juga bertujuan memajukan Bali kehidupan penduduknya. Untuk maskud tersebut kemudian datang seorang RSI ke Bali bernama Maharsi Markandeya dari India.
Pendapat di atas dapat dipastikan keliru, karena dari tinggalan benda-benda prasejarah yang banyak diketemukan di Pulau Bali, menunjukan masyarakat Bali pada masa lalu telah mengembangakan suatu sistem kepercayaan yang kompleks, jauh sebelum penanggalan Masehi dikenal, bahkan jauh sebelum “Hindu” dan India menyentuh pulau Bali. Mungkin yang dimaksud kosong di atas lebih merujuk belum beragama “Hindu-Bali”.[3]
B.     Mite Atau Legenda.
·         Mite Tentang Dewi Yang Turun Dari Langit.
Trunyan mempunyai satu mite (dongeng suci) mengenai asal-usul penduduk Trunyan, yang menceritakan bahwa leluhur wanita mereka adalah seorang Dewi dari langit yang diusir dari kahyangan (entah karena dosa apa), untuk turun ke suatu tempat di bumi yang kemudian terkenal dengan nama desa Trunyan. Rahim Dewi ini kemudian dibuahi secara ajaib oleh matahari (Sang Surya) karena sering menghina Sang Surya dengan cara memperlihatkan alat kelaminnya sambil menungging ke arahnya. Sebagai akibat kenakalannya itu secara ghaib ia mengandung, dan setelah tiba waktunya Sang Dewi melahirkan sepasang anak kembar berlainan jenis kelamin(kembar buncing), seorang diantaranya adalah anak banci dan seorang lagi anak perempuan. Setelah anak tersebut besar Sang Dewi kemudian kembali ke Kahyangan.[4]
·         Legenda Tentang Anak-Anak Dalem Solo Yang Menggembara Mencari Sumber Bau Harum.
Bau harum yang berhamburan dari desa Trunyan juga tercium sampai ke puri(Keraton) Dalam Solo. Bau harum yang luar biasa ini telah menarik minat empat orang anak Dalam Solo untuk bersama-sama mencari sumbernya. Dari empat orang anak Dalam Solo itu, tiga yang lebih tua usianya adalah laki-laki, sedangkan yang termuda adalah seorang wanita. Dalam pengembaran tersebut, akhirnya mereka tiba di Pulau Bali. Anak Dalem Solo yang perempuan berkeputusan untuk berdiam ditempat itu, yaitu bertempat di Pura Batur, sekarang Gelar Putri tersebut setelah menjadi dewi adalah dewi Ratu Ayu Mas Maketeg. Ketiga saudara laki-lakinya melanjutkan perjalanan menyusur pinggir Danau Batur, dan ketika tiba di suatu tempat yang datar sebelah barat daya Danau, terdengar oleh mereka terdengar seekor burung. Maka sejak itu tempat itu bernama Kedisan, karena burung dalam bahasa Bali adalah Kedis. Wauktu terdengar suara itu, karena girangnya, putra Dalam Solo yang termuda berteriak. Hal ini membuat kakanya yang tertua kurang senang, sehingga menginginkan supaya adiknya untuk selanjutnya tinggal ditempat itu, dan tidak lagi ikut penggembaraan mereka. Tetapi si kecil menolak, sehingga dalam kemarahannya, ia ditendang denga keras oleh kakanya sampai jatuh bersila. Itulah sebabnya, maka didesa Kedisan pada dewasa ini terdapat satu patung batu Betera (dewa) yang duduk dalam sikap bersila. Betera yang asalnya adalah putera Dalam Solo yang ketiga ini, kemudian bergelar Ratu Sakti Sang Hyang Jero, dan kini bersemayam (melinggih) di Meru Tumpang Pitu (bangunan suci dalam kuil yang beratap tujuh tingkat) di dalam Kuil Pura Dalam Pingit di Desa Kedisan.[5]

selanjutnya


Filed Under :

0 komentar for " "

Posting Komentar

background