Minggu, 24 April 2016



D.    Interaksi Kepercayaan Orang Trunyan Dengan Agama-agama Lain.
Interaksi antara etnis Bali dengan etnis Sasak (Islam). Kerjasama antara etnis Bali dan etnis Sasak sudah terjadi jauh sebelumnya, pada saat kedatangan Islam (Sasak) dengan pihak kerajaan Karangasem. Masyarakat Islam Sasak ditempatkan berdampingan dengan masyarakat hindu dan bekerja sama dalam menjaga keamanan wilayah kerajaan Karangasem dari serbuan kerajaan lainnya di Bali. Kerjasama tersebut berlanjut sampai sekarang, namun dalam konteks menjaga keamanan wilayan Desa Pakraman yakni sebagai pencalang dan jagabaya. Sebagai pencalang umat Hindu dan umat Islam ikut bergabung menjaga keamanan, berkeliling di wilayah Desa dan Banjar. [23]
Selain itu antara etnis Bali dan Etnis Sasak (Islam) juga terjadi interaksi jual beli di pasar tradisional antara pedagang etnis Sasak misalnya (pedagang sate, cendol, buah, kain, tukang jarit dan sebagainya) dengan pembeli masyarakat etnis Bali dan begitu pula sebaliknya. Tidak hanya sebatas pedagang dan pembeli, interaksi juga terjadi pada sesama pedagang etnis Bali dan Etnis Sasak. Mereka saling memberikan rekomendasi dagangan teman atau kerabat mereka kepada pembeli yang ingin membeli kebutuhan sehari-hari.
Dinamika budaya serta perubahan sosial  di Trunyan juga menjadi salah satu bukti interaksi Trunyan terhadap agama-agama lain. Letak Trunyan yang terpencil dari kehidupan orang bali pada umumnya, dan bangsa Indonesia pada lainnya. Biarpun seperti itu desa ini telah lama menjadi perhatian orang luar, terutama dalam penyebaran agama Hindu disana, yang mayoritas di anut oleh masyarakat Bali. Persentuhan desa Trunyan dengan budaya luar, sebenarnya sudah mulai sejak lama. Namun persentuhan tersebut sebatas pada Hindu Bali saja. Setelah itu, persentuhan yang dibawa dari masa kolonialisasi baik budaya Asia, seperti Jawa, India dan Cina, ternyata tidak berdampak begitu berarti pada perkembangan kepercayaan. Mereka dengan teguh tetap berusaha melestarikan kebudayaan yang dimiliki. Apalagi dewasa ini, Bali secara keseluruhan telah dikenal di mata Internasional menjadi salah satu tujuan wisata.
Dukungan dari pemerintah untuk peristiwa seperti ini yang menyebabkan tradisi budaya lokal terus digalakan perkembangannya. Dewasa ini, pertumbuhan pembanguna modern sudah sangat nampak di daerah Trunyan. Pembangunan hotel, villa, restaurant, serta tempat peristirahatan lainnya berkembang pesat. Disamping itu, pembanguna kuil sesembahan, tempat pemujaan, juga banyak di bangun, meski sepertinya ada sangat besar. Pergeseran nilai yang terjadi seperti pergeseran kehidupan pertanian ke sektor pariwisata, namun pelestarian kebudayaan dan kepercayaan masih trus akan bertahan dan berkembang.[24]

BAB III
Kesimpulan
Jadi begitulah asal usul suku Trunyan di Bali dengan proses yang sangat panjang mulai dari penamaan sampai menjadi desa yang cukup luas. Dari asal usul hingga tradisi,adat dan kebudayaan orang Trunyan yang menyimpan banyak keunikan didalamnya sehingga masyarakat Trunyan selalu menjaga dan melestarikannya sampai sekarang.


DAFTAR PUSTAKA
James Danandjaja, Kebudayaan Petani Desa Trunyan di Bali, (Jakarta: penerbit Universitas Indonesia, 1989)
Trisila, Akulturasi Budaya Islam Hindu di Bali, (Depasar : Universitas Udayana, 2002).



[1] DR. James Danandjaja,  Kebudayaan Petani Desa Trunyan Di Bali, (Jakarta: UI Press, 1989), h. 1-11.
  
[2] DR. James Danandjaja, opcit., h. 15
[3] Judul : http://travel.okezone.com/read/2011/02/21/407/426926/tradisi-masyarakat-desa-trunyaN pada tanggal, 15 maret 2016, Pada Pukul 08.00.
[4]   ”Judul” : http://travel.okezone.com/read/2011/02/21/407/426926/tradisi-masyarakat-desa-trunyaN pada tanggal, 15 maret 2016, Pada Pukul 08.00.
[5] DR. James Danandjaja, op. cit., h. 40-41.
[6] DR. James Danandjaja, op. cit., h. 309-210.
[7]. Ciwatri yang berarti malam Ciwa, tetapi di Bali diinterpretasikan sebagai “malm renungan suci” atau “malam peleburan dosa”. 
[8] . Saraswati adalah hari raya untuk memuja Sang Hyang Widhi dalam kekuatannya menciptakan ilmu pengetahuan dan ilmu pensucian.
[9] Pagerwasi adalah hari pemujaan Sang Hyang Widhi dengan Perbhawanya sebagai Sang Hyang Paramesti Guru yang sedang beryoga untuk kesentausaan alam ciptaannya dengan diiringi oleh para dewa, pitara-pitara
[10]. Tetebasan tersebut terbuat dari janur kelapa yang dirangkaikan serta diukir berbentuk bulat pipih seperti bulan, sedangkan tetebasan sapu lara juga terbuat dari janut kelapa tetapi berbentuk mahkota Raja Jawa dalam wayang orang (topeng).
[11]. DR. James Danandjaja, op. cit., h. 310.
[12] Nyam-pat adalah roh-roh empat saudara anak bayi Trunyan, sewaktu masih berada di dalam rahim ibunya. Empat saudara tersebut adalahYeh Nyem, getih, ari-ari, dan tali pusar.
[13]. DR. James Danandjaja, op. cit., h. 312
[14] DR. James Danandjaja, op. cit., h. 315
[15]  DR. James Danandjaja, op. cit., h. 316.
[16] DR. James Danandjaja, op. cit., h. 290-292
[17]   DR. James Danandjaja, op. cit., h.356-357
[18]    DR. James Danandjaja, op. cit., h.161-163
[19] DR. James Danandjaja, op. cit., h. 190
[20] DR. James Danandjaja, op. cit., 349-350
[21] “judul” http://wisatabaliutara.com/2014/12/keunikan-desa-trunyan-bali-tentang-pemakaman.html/ diakses pada tanggal 14 maret 2016 pada pukul 17:00
[22] “ judu” http://www.wacananusantara.org/mepasah-tradisi-pemakaman-desa-trunyan-bali/ diakses pada tanggal 16 maret 2016 pukul 21:00
[23] Trisila, Akulturasi Budaya Islam Hindu di Bali, (Depasar : Universitas Udayana, 2002).h. 43
[24] Trisila, opcit,. H. 48
Filed Under :

0 komentar for " "

Posting Komentar

background