D. Interaksi Kepercayaan
Orang Trunyan Dengan Agama-agama Lain.
Interaksi antara etnis Bali dengan etnis
Sasak (Islam). Kerjasama antara etnis Bali dan etnis Sasak sudah terjadi jauh
sebelumnya, pada saat kedatangan Islam (Sasak) dengan pihak kerajaan
Karangasem. Masyarakat Islam Sasak ditempatkan berdampingan dengan masyarakat
hindu dan bekerja sama dalam menjaga keamanan wilayah kerajaan Karangasem dari
serbuan kerajaan lainnya di Bali. Kerjasama tersebut berlanjut sampai sekarang,
namun dalam konteks menjaga keamanan wilayan Desa Pakraman yakni sebagai
pencalang dan jagabaya. Sebagai pencalang umat Hindu dan umat Islam ikut
bergabung menjaga keamanan, berkeliling di wilayah Desa dan Banjar. [23]
Selain itu antara etnis Bali dan Etnis
Sasak (Islam) juga terjadi interaksi jual beli di pasar tradisional antara
pedagang etnis Sasak misalnya (pedagang sate, cendol, buah, kain, tukang jarit
dan sebagainya) dengan pembeli masyarakat etnis Bali dan begitu pula
sebaliknya. Tidak hanya sebatas pedagang dan pembeli, interaksi juga terjadi
pada sesama pedagang etnis Bali dan Etnis Sasak. Mereka saling memberikan
rekomendasi dagangan teman atau kerabat mereka kepada pembeli yang ingin
membeli kebutuhan sehari-hari.
Dinamika budaya serta perubahan
sosial di Trunyan juga menjadi salah satu bukti interaksi Trunyan
terhadap agama-agama lain. Letak Trunyan yang terpencil dari kehidupan orang
bali pada umumnya, dan bangsa Indonesia pada lainnya. Biarpun seperti itu desa
ini telah lama menjadi perhatian orang luar, terutama dalam penyebaran agama
Hindu disana, yang mayoritas di anut oleh masyarakat Bali. Persentuhan desa
Trunyan dengan budaya luar, sebenarnya sudah mulai sejak lama. Namun
persentuhan tersebut sebatas pada Hindu Bali saja. Setelah itu, persentuhan
yang dibawa dari masa kolonialisasi baik budaya Asia, seperti Jawa, India dan
Cina, ternyata tidak berdampak begitu berarti pada perkembangan kepercayaan.
Mereka dengan teguh tetap berusaha melestarikan kebudayaan yang dimiliki.
Apalagi dewasa ini, Bali secara keseluruhan telah dikenal di mata Internasional
menjadi salah satu tujuan wisata.
Dukungan dari pemerintah untuk peristiwa
seperti ini yang menyebabkan tradisi budaya lokal terus digalakan
perkembangannya. Dewasa ini, pertumbuhan pembanguna modern sudah sangat nampak
di daerah Trunyan. Pembangunan hotel, villa, restaurant, serta tempat peristirahatan
lainnya berkembang pesat. Disamping itu, pembanguna kuil sesembahan, tempat
pemujaan, juga banyak di bangun, meski sepertinya ada sangat besar. Pergeseran
nilai yang terjadi seperti pergeseran kehidupan pertanian ke sektor pariwisata,
namun pelestarian kebudayaan dan kepercayaan masih trus akan bertahan dan
berkembang.[24]
BAB III
Kesimpulan
Jadi begitulah asal usul suku Trunyan di
Bali dengan proses yang sangat panjang mulai dari penamaan sampai menjadi desa
yang cukup luas. Dari asal usul hingga tradisi,adat dan kebudayaan orang
Trunyan yang menyimpan banyak keunikan didalamnya sehingga masyarakat Trunyan
selalu menjaga dan melestarikannya sampai sekarang.
DAFTAR PUSTAKA
James Danandjaja, Kebudayaan
Petani Desa Trunyan di Bali, (Jakarta: penerbit Universitas Indonesia,
1989)
Trisila, Akulturasi Budaya Islam
Hindu di Bali, (Depasar : Universitas Udayana, 2002).
[1] DR. James Danandjaja, Kebudayaan
Petani Desa Trunyan Di Bali, (Jakarta: UI Press, 1989), h. 1-11.
[3] ”Judul” : http://travel.okezone.com/read/2011/02/21/407/426926/tradisi-masyarakat-desa-trunyaN pada
tanggal, 15 maret 2016, Pada Pukul 08.00.
[4] ”Judul” : http://travel.okezone.com/read/2011/02/21/407/426926/tradisi-masyarakat-desa-trunyaN pada tanggal, 15 maret 2016, Pada Pukul 08.00.
[7]. Ciwatri yang berarti
malam Ciwa, tetapi di Bali diinterpretasikan sebagai “malm renungan suci” atau
“malam peleburan dosa”.
[8] . Saraswati
adalah hari raya untuk memuja Sang Hyang Widhi dalam kekuatannya menciptakan
ilmu pengetahuan dan ilmu pensucian.
[9] Pagerwasi adalah
hari pemujaan Sang Hyang Widhi dengan Perbhawanya sebagai Sang Hyang Paramesti
Guru yang sedang beryoga untuk kesentausaan alam ciptaannya dengan diiringi
oleh para dewa, pitara-pitara
[10].
Tetebasan tersebut terbuat dari janur kelapa yang dirangkaikan serta
diukir berbentuk bulat pipih seperti bulan, sedangkan tetebasan sapu lara juga
terbuat dari janut kelapa tetapi berbentuk mahkota Raja Jawa dalam wayang orang
(topeng).
[12] Nyam-pat adalah roh-roh empat saudara anak bayi
Trunyan, sewaktu masih berada di dalam rahim ibunya. Empat saudara tersebut
adalahYeh Nyem, getih, ari-ari, dan tali pusar.
[21] “judul” http://wisatabaliutara.com/2014/12/keunikan-desa-trunyan-bali-tentang-pemakaman.html/ diakses pada
tanggal 14 maret 2016 pada pukul 17:00
[22] “ judu” http://www.wacananusantara.org/mepasah-tradisi-pemakaman-desa-trunyan-bali/ diakses pada
tanggal 16 maret 2016 pukul 21:00
0 komentar for " "
Posting Komentar